Edisi ini adalah terjemahan dari naskah asli berbahasa Arab dan sedang menunggu tinjauan oleh penerjemah dan ahli syariah. Ayat-ayat Al-Qur’an dikutip dari terjemahan resmi Kementerian Agama RI. Selengkapnya

Berdasarkan hadis sahih

Keyakinan di Lembah yang Tak Bertanaman

Draf beserta sumbernya, menunggu tinjauan ilmiahDiperbarui 30 أكتوبر 2026Sumber kami

Ketika air Zamzam lahir dari jantung padang pasir

Di jantung sebuah lembah yang dikelilingi gunung-gunung, tempat tak terdengar suara manusia, tak mengalir sungai, dan tak terbentang ladang hijau, salah satu kisah terbesar yang pernah dikenal Makkah akan segera dimulai.

Kisah seorang ibu yang menggendong bayinya, seorang nabi yang terus melangkah dalam ketaatan kepada perintah Tuhannya, dan sebuah keyakinan yang tak dapat dikalahkan oleh sepinya tempat itu.

Makkah saat itu tidak seperti yang kita kenal hari ini; tak ada bangunan yang memenuhi lembah, dan tak ada keramaian yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Ia adalah tanah yang sunyi, menanti takdir yang agung.

Nabi Ibrahim (‘alaihissalam) membawa istrinya Hajar dan putranya yang masih menyusu, Ismail, ke lembah itu, dan menempatkan mereka di dekat tempat Baitullah, yang ketika itu tak berpenghuni dan tak berair.

Ia meninggalkan untuk mereka sekantong kurma dan sekirbat air, lalu berangkat pulang.

Hajar melihat suaminya berjalan menjauh, lalu menyusulnya, bertanya tentang tempat ini, di mana ia ditinggalkan bersama anaknya — namun Ibrahim terus berjalan, menaati perintah Tuhannya.

Hingga Hajar mengajukan pertanyaan yang mengubah makna seluruh peristiwa itu:

“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”

Ibrahim menjawab: Ya.

Lalu Hajar mengucapkan kata-kata yang dipelihara oleh Sunah untuk kita:

“Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Betapa indahnya kata-kata itu!

Lembah itu belum berubah, air belum muncul, dan belum ada kafilah yang datang membawa makanan — tetapi hatinya tenang begitu ia tahu bahwa Allah-lah yang memerintahkannya.

Nabi Ibrahim (‘alaihissalam) terus berjalan hingga sampai di suatu tempat yang tidak terlihat oleh mereka. Lalu ia menghadap ke arah Baitullah, mengangkat kedua tangannya, dan berdoa kepada Tuhannya.

Allah Yang Mahatinggi berfirman:

﴿رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ﴾“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.”

QS. Ibrahim 14:37 · terjemahan Kemenag RI · Quran.com

Hari-hari berlalu, hingga air yang ditinggalkan Ibrahim habis.

Hajar merasa haus, begitu pula bayinya, Ismail.

Ia melihat putranya menggeliat kehausan, dan ia tak sanggup tinggal di sana menyaksikannya.

Ia keluar mencari seseorang yang dapat menolongnya.

Ia mendaki Safa dan memandang ke seluruh lembah, tetapi tidak melihat seorang pun.

Ia turun dan menuju Marwah, lalu berdiri mencari-cari dengan pandangannya seseorang atau pertolongan, tetapi tidak menemukannya.

Lalu ia kembali, bergegas.

Lagi dan lagi, hingga ia menyelesaikan tujuh kali antara Safa dan Marwah.

Itulah sai seorang ibu yang mencari air untuk anaknya, dan ia tidak tahu bahwa ikhtiar ini suatu hari akan terikat dengan sebuah manasik yang dilakukan kaum Muslim berabad-abad kemudian.

Nabi ﷺ bersabda, dalam hadis yang menceritakan kisah Hajar:

“Itulah sai manusia di antara keduanya.”

Ketika ia berada di Marwah, ia mendengar sebuah suara.

Ia mendengarkan, dan ternyata ada malaikat di tempat Zamzam. Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya — atau dengan sayapnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat — hingga air muncul.

Pertolongan telah datang!

Hajar mulai membendung air itu dengan tanah dan menciduknya ke dalam kirbatnya, sementara air terus memancar.

Ia minum dan menyusui anaknya, dan malaikat itu mengatakan kepadanya sesuatu yang menenangkannya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan penghuni tempat ini.

Dari lembah yang tak berair, muncullah air Zamzam.

Dan dari ikhtiar seorang perempuan beriman yang berusaha menyelamatkan anaknya, tinggallah sebuah kisah yang mengingatkan kita — setiap kali melihat Safa dan Marwah — bahwa bertawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha dan menempuh sebab-sebab.

Sejenak merenung

Hajar tidak berkata: karena Allah tidak akan menyia-nyiakan kami, aku akan duduk saja sampai air datang.

Ia juga tidak berkata: tak ada gunanya mencari di lembah yang tak berpenghuni.

Sebaliknya ia memadukan dua hal besar: keyakinan kepada Allah, dan berusaha sekuat tenaga.

Di sinilah terletak salah satu makna terindah yang kita hadirkan ketika berjalan di antara Safa dan Marwah.

Kita mungkin tidak tahu bagaimana pertolongan akan datang, atau kapan ia datang, tetapi kita dapat berbuat dengan apa yang kita miliki, mengharap karunia Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya.

Merenungkan hal ini tidak berarti bahwa setiap kesulitan akan berakhir seperti yang kita inginkan; melainkan mengingatkan kita untuk percaya pada hikmah dan rahmat Allah, dengan sabar dan ikhtiar.

Apa yang kita ketahui? Apa yang tidak kita ketahui?

Kita mengetahui:

  • Bahwa Nabi Ibrahim (‘alaihissalam) meninggalkan Hajar dan Ismail di Makkah atas perintah Allah.
  • Bahwa Hajar berkata: “Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”
  • Bahwa ia bolak-balik tujuh kali antara Safa dan Marwah, mencari pertolongan.
  • Bahwa air Zamzam muncul setelah malaikat menggali tanah.
  • Bahwa Nabi ﷺ mengaitkan sai manusia antara Safa dan Marwah dengan sai Hajar.

Kita tidak dapat memastikan:

  • Berapa hari berlalu sebelum air itu habis.
  • Bahwa Hajar terus mengulang-ulang “zam zam” ketika air itu muncul; rincian seperti ini tidak tetap dalam riwayat sahih yang dijadikan sandaran di sini.
  • Percakapan panjang dan perasaan yang kadang dinisbatkan kepadanya, yang tidak disebutkan oleh sumber-sumber yang sahih.

Sumber

  • Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’, hadis no. 3364, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (semoga Allah meridai keduanya).
  • Al-Qur’an, Surah Ibrahim, ayat 37.
  • Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir ath-Thabari tentang Surah Ibrahim, ayat 37.

Apakah hari ini Anda sedang melewati salah satu lembah kehidupan, di mana Anda tak melihat jalan keluar?

Langkah apa yang dapat Anda ambil, sambil berbaik sangka kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya?

Nas Al-Qur’an + renungan

Ketika fondasi itu ditinggikan

Berdasarkan hadis sahih

Hijir: bagian Ka’bah yang tertinggal di luar

Peristiwa yang tetap dalam Al-Qur’an, dengan rincian sejarah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab sirah

Rumah Ini Punya Tuhan yang Melindunginya