Ihram adalah niat memasuki ibadah haji atau umrah, dan ia merupakan rukun. Mandi dan memakai wewangian sebelumnya adalah sunah.
Langkah-langkahnya
- Merapikan diri seperti biasa sebelum ihram bila diperlukan, seperti memotong kuku dan menghilangkan rambut yang biasa dihilangkan. Ini bukan hal yang khusus untuk ihram; tanyakan rinciannya kepada ulama.
- Mandilah, lalu pakailah wewangian di badan, bukan di pakaian ihram (bagi laki-laki).
- Laki-laki: kain sarung (izar) dan kain selendang (rida’), sebaiknya putih, serta sandal. Perempuan: pakaian apa saja yang menutup aurat dan tidak mencolok, tanpa warna tertentu.
- Niat di miqat, dengan mengucapkan: “Labbaika ‘umratan” (Aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah).
- Siapa yang khawatir ada halangan seperti sakit boleh menambahkan syarat: “Jika ada sesuatu yang menghalangiku, maka tempat tahalulku adalah di mana aku terhalang.”
- Kemudian mulailah bertalbiah.
Dalilnya
Hadis Dhuba’ah binti az-Zubair tentang menambahkan syarat (Al-Bukhari 5089, Muslim 1207), dan ucapan Aisyah: “Aku dahulu memakaikan wewangian kepada Rasulullah ﷺ untuk ihramnya sebelum beliau berihram” (Al-Bukhari 1539, Muslim 1189).
Kesalahan yang sering terjadi
- Meyakini adanya salat khusus untuk ihram. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dianjurkan berihram setelah salat, baik wajib maupun sunah.
- Membiarkan bahu kanan terbuka (idhtiba’) selama ihram; itu sunah hanya saat tawaf.