Sepanjang sejarahnya, Makkah bukan hanya tujuan para jemaah, tetapi juga tempat bertemunya para ulama dan penuntut ilmu.
Di antara para ulama itu adalah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (semoga Allah merahmatinya).
Al-Baihaqi, dalam Manaqib asy-Syafi’i, meriwayatkan sebuah majelisnya di Makkah tempat ia memberi fatwa kepada orang-orang dan menjawab pertanyaan mereka.
Riwayat itu menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih hadir, dan bahwa Imam Ahmad mengagumi ilmu yang ia dengar dari asy-Syafi’i.
Demikianlah ilmu hidup di Makkah: dikaji oleh para ulama, dipelajari oleh masyarakat, dan menjadi titik temu berbagai mazhab fikih.
Adegan ini mengingatkan kita bahwa salah satu hal terbesar yang dapat dibawa pulang seseorang dari perjalanan ke Rumah Allah adalah ilmu yang bermanfaat, yang membimbingnya untuk menyembah Tuhannya dengan pemahaman.
Sejenak merenung
Seseorang bisa menempuh jarak yang jauh untuk melaksanakan suatu ibadah, lalu pulang dengan membawa ilmu baru yang mengubah cara hidupnya.
Ilmu yang benar membantu keikhlasan dan amal saleh, serta melindungi ahli ibadah dari kesalahan yang timbul karena ketidaktahuan.
Apa yang kita ketahui, dan apa yang tidak kita ketahui?
- Kita mengetahui: al-Baihaqi meriwayatkan kisah majelis Imam asy-Syafi’i di Makkah dan para ulama yang menghadirinya.
- Kami tidak mengklaim: kesahihan doa panjang yang dinisbatkan kepadanya di Multazam dalam sebagian teks yang beredar; kami belum menemukan asal-usul yang tepercaya untuk lafaz tersebut.
Sumber
- Al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi’i, riwayat tentang asy-Syafi’i yang terlihat memberi fatwa kepada orang-orang di Makkah.
- Sanad riwayat ini perlu ditinjau oleh ahlinya sebelum dijadikan sandaran akhir.
Ilmu apa yang Anda harapkan dapat dibawa pulang dari Makkah dan bermanfaat bagi Anda sepanjang sisa hidup?